Manhaj (Metode) Dakwah Ilallah

Dari Ibnu ‘Abbas r.a, bahwasanya Rasulullah saw bersabda ketika mengutus Mu’adz r.a ke Yaman:
“Sesungguhnya engkau akan mendatangi suatu kaum dari kalangan ahli kitab. Maka hendaklah perkara pertama yang engkau serukan kepada mereka adalah bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang haq kecuali Allah -dalam riwayat lain: agar mereka mentauhidkan Allah-. Jika mereka mau taat kepadamu dalam hal tersebut , maka beritahukan kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan atas mereka shalat lima waktu dalam sehari semalam. Jika mereka mau taat kepadamu dalam hal tersebut, maka beritahukan kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan atas mereka shadaqah, yang diambil dari orang-orang kaya dan diberikan kepada orang-orang fakir di antara mereka. Jika mereka menaatimu, berhati-hatilah engkau terhadap harta mereka yang berharga. Dan takutlah kepada doa orang yang terzalimi. Karena sesungguhnya tidak ada satu penghalangpun antara doa orang tersebut dengan Allah.” (Hadits ini dikeluarkan oleh Al-Imam Al-Bukhori, Muslim, An-Nasa’i, Ibnu Majah, Ad-Darimi, dan Ahmad)

Makna Hadits secara Umum

Hadits ini menerangkan tentang langkah-langkah yang wajib ditempuh oleh seorang da’i ilallah. Awal mula yang harus ditempuhnya adalah mengajak kepada tauhid dan mengesakan Allah SWT semata dalam beribadah, serta menjauhi syirik baik yang kecil maupun yang besar. Hal ini diwujudkan dengan persaksian (syahadat) bahwa tidak ada sesembahan yang haq kecuali Allah SWT dan bahwa Muhamad adalah Rasulullah SAW.

Maksud syahadat ini adalah bahwa seluruh jenis ibadah adalah hak mutlak bagi Allah SWT saja. Segala sesuatu selain Allah SWT, baik berupa malaikat yang didekatkan kepada Allah SWT, nabi yang diutus, orang shalih, batu, pohon, matahari, ataupun bulan, tidak memiliki hak sedikitpun untuk diibadahi.

Tidak boleh dipanjatkan doa kepada selain Allah SWT. Tidak boleh dimintai pertolongan ketika terjadinya marabahaya (istighatsah), dimintai pertolongan (isti’anah), dijadikan tempat bersandar (tawakkal), ditakuti, dan diharapkan, kecuali Allah SWT.

Barangsiapa menyerahkan sedikit saja dari jenis-jenis ibadah tersebut atau jenis ibadah yang lain kepada selain Allah SWT, maka ia telah menyekutukan Allah.

“Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan baginya surga, dan tempatnya ialah neraka. Tidak ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun.” (QS. Al-Maidah: 72)

Yang diinginkan dari kalimat La ilaaha illallah bukanlah semata-mata mengucapkannya, namun harus disertai dengan mengetahui maknanya, mengamalkan konsekuesnsinya, dan menyempurnakan syarat-syaratnya.

Syarat-syarat La ilaaha illallah ada tujuh :
  • Ilmu, yang meniadakan kebodohan.
  • Yakin, yang meniadakan keraguan.
  • Menerima, yang meniadakan penolakan.
  • Tunduk, yang meniadakan sikap meninggalkan.
  • Ikhlas, yang meniadakan kesyirikan.
  • Jujur, yang meniadakan kedustaan.
  • Cinta, yang meniadakan lawannya (benci).

Maksud syahadat “bahwa Muhammad adalah Rasulullah”, yaitu mengetahui maknanya dan mengamalkan konsekuesnsinya, bukan sekedar mengucapkan. Makna syahadat tersebut adalah membenarkan apa yang beliau kabarkan, menaati apa yang beliau perintahkan, menjauhi apa yang beliau larang dan cerca, serta beribadah kepada Allah sesuai dengan yang disyariatkan-Nya melalui lisan Rasul yang mulia ini, bukan dengan hawa nafsu dan kebid’ahan.

Maka wajib bagi setiap muslim untuk mengetahui makna dua syahadat ini dengan pemahaman yang benar. Selain itu, wajib pula baginya untuk mengamalkan konsekuensinya dengan baik, yaitu membenarkan, mengimani, dan mengamalkan apa yang dibawa oleh Rasulullah saw di dalam Al-Kitab dan As-Sunnah, serta mengamalkan hal-hal yang berkaitan dengan masalah-masalah aqidah, ibadah dan pensyariatan dalam sepanjang hidupnya.

Faidah yang Bisa Diambil dari Hadits

  1. Tauhid adalah pokok agama Islam.
  2. Rukun terpenting setelah tauhid adalah menegakkan shalat.
  3. Rukun yang paling wajib setelah shalat adalah zakat yang fardhu. Dan zakat termasuk hak harta.
  4. Imam (penguasa)-lah orang yang berwenang untuk mengambil zakat dan menyerahkannya kepada yang berhak, baik ia lakukan sendiri ataupun oleh pengganti/wakilnya.
  5. Dalam hadits ini terdapat dalil bahwa mengeluarkan zakat untuk satu golongan (yang berhak menerima zakat) saja sudah mencukupi.
  6. Juga terdapat dalil tentang tidak bolehnya memberikan zakat kepada orang kaya.
  7. Terdapat dalil pula tentang haramnya seorang amil zakat untuk mengambil harta yang paling berharga.
  8. Dalam hadits ini terdapat peringatan untuk berhati-hati dari melakukan segala macam kezaliman.
  9. dalam hadits ini juga terdapat faedah diterumanya kabar dalam masalah aqidah dan kabar yang mewajibkan suatu amalan, dari seorang yang adil.
  10. Terdapat pula faedah agar seorang da’i memulai dakwahnya dengan perkara yang paling penting, kemudian perkara terpenting selanjutnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

X